Pelajar SMK Negeri 1 Jogonalan Belajar Koperasi dan Pemberdayaan di CU Kridha Rahardja TP Wedi

Pelajar SMK Negeri 1 Jogonalan Belajar Koperasi dan Pemberdayaan di CU Kridha Rahardja TP Wedi

Wedi, Klaten — Omah Sedulur CU Kridha Rahardja (CUKR) TP Wedi kembali menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, tempat tersebut kedatangan tujuh siswa kelas XI Jurusan Akuntansi dari SMK Negeri 1 Jogonalan.

Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari tugas mata pelajaran koperasi. Para siswa melakukan wawancara dengan Kepala Kantor CU Kridha Rahardja TP Wedi, Sarwanto, untuk mengenal lebih dekat dunia koperasi sekaligus memahami bagaimana koperasi hadir dan memberikan manfaat bagi anggotanya.

Menariknya, pilihan CUKR sebagai tempat belajar berawal dari salah satu siswa, Abeta, yang merupakan anak dari anggota CU Kridha Rahardja dari Teritori Gedangsari, Lestariningsih. Dari hubungan tersebut, para siswa kemudian memilih CUKR sebagai narasumber untuk menggali lebih banyak pengetahuan mengenai koperasi dan CU.

Mengenal CU dari Sejarah hingga SHU

Dalam sesi wawancara, ketujuh siswa dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan kepada Sarwanto. Mereka tidak hanya bertanya mengenai hal-hal mendasar tentang koperasi, tetapi juga ingin mengetahui perjalanan CU Kridha Rahardja sejak awal berdiri hingga berkembang seperti sekarang.

Beberapa hal yang mereka gali antara lain sejarah berdirinya CU Kridha Rahardja, jumlah anggota, pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), visi dan misi, hingga struktur organisasi.

Sarwanto menjelaskan setiap pertanyaan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia juga mengajak para siswa melihat koperasi dan credit union bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai wadah yang dibangun dari, oleh, dan untuk anggota.

Bagi para siswa, sesi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana teori yang mereka pelajari di kelas diterapkan dalam kehidupan nyata.

Dari Koperasi, Berlanjut Belajar Pemberdayaan

Setelah sesi wawancara selesai, kegiatan tidak berhenti di ruang diskusi. Sarwanto kemudian mengajak para siswa melihat lebih dekat salah satu kegiatan pemberdayaan yang sedang dikembangkan di CU Kridha Rahardja TP Wedi, yaitu pertanian terpadu.

Para siswa didampingi oleh Lukas Awi dan Tri Setyono, aktivis CU Kridha Rahardja, serta Dewi Musfiroh, staf pemberdayaan CU Kridha Rahardja TP Wedi.

Di demplot pertanian terpadu, para siswa diperkenalkan pada konsep sederhana namun menarik: bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap limbah dapat kembali dimanfaatkan dan menjadi bagian dari sebuah siklus yang saling mendukung.

Salah satunya adalah pemanfaatan sampah organik rumah tangga melalui galon tumpuk untuk menghasilkan pupuk dan maggot. Pupuk yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan berbagai tanaman sayuran yang ditanam menggunakan galon bekas dan gelas minuman bekas.

Pemanfaatan wadah bekas ini bukan sekadar untuk mengurangi limbah. Konsep tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki lahan terbatas, dengan memanfaatkan barang-barang yang tersedia di sekitar.

Maggot, Ayam, Lele hingga Kebun Anggur

Pertanian terpadu di TP Wedi juga tidak berhenti pada tanaman. Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk ayam petelur dan ikan lele.

Dengan demikian, satu bagian dari sistem dapat mendukung bagian lainnya. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, maggot dimanfaatkan sebagai pakan, sementara hasil pengolahan organik dapat mendukung kebutuhan tanaman.

Di sisi lain, para siswa juga melihat percobaan kebun anggur yang saat ini telah memiliki tiga pohon.

Konsep yang dikembangkan sederhana, tetapi memiliki pesan penting: sebisa mungkin tidak ada bahan yang terbuang begitu saja. Apa yang menjadi sisa dari satu proses dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses lainnya.

Memanfaatkan Bonggol Jagung Menjadi Media Budidaya Jamur

Hal menarik lainnya adalah pengembangan terbaru di demplot pertanian terpadu TP Wedi, yaitu percobaan budidaya jamur dengan memanfaatkan bonggol jagung.

Selama ini, jagung yang digunakan sebagai pakan umumnya dimanfaatkan bagian bijinya, sementara bonggolnya sering kali hanya menjadi limbah atau memiliki nilai jual yang rendah.

Melalui percobaan ini, CU Kridha Rahardja TP Wedi mencoba melihat kemungkinan lain: bagaimana bonggol jagung dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.

Pengembangan ini menjadi bagian dari semangat pemberdayaan CUKR untuk terus mencari potensi yang ada di sekitar dan mengolahnya menjadi sesuatu yang memberikan manfaat.

Menjadikan CUKR sebagai Ruang Belajar

Setelah berkeliling dan melihat langsung demplot pertanian terpadu, ketujuh siswa tersebut mengakhiri kunjungannya di Omah Sedulur CUKR TP Wedi.

Mereka mengaku senang mendapatkan pengalaman belajar secara langsung. Tidak hanya memperoleh wawasan mengenai koperasi dan CU, mereka juga mendapatkan gambaran bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di lingkungan sekitar.

Para siswa bahkan berharap CU Kridha Rahardja dapat kembali menjadi tempat belajar apabila di kemudian hari mereka mendapatkan tugas atau kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan koperasi maupun pemberdayaan.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa ruang belajar tidak selalu berada di dalam kelas. Omah Sedulur CU Kridha Rahardja pun dapat menjadi ruang bertemunya pengetahuan, pengalaman, dan praktik nyata—tempat generasi muda belajar bahwa koperasi bukan hanya tentang simpan pinjam, tetapi juga tentang kebersamaan, pemberdayaan, pemanfaatan potensi, dan menciptakan manfaat bagi lingkungan.

 

F Desti Riasita

Staf Kasir TP Wedi Credit Union Kridha Rahardja

Penyegaran Abdi Sedulur CU Kridha Rahardja di Oemah Petruk Kaliurang Memperkuat Semangat, Solidaritas, dan Komitmen Pelayanan

Penyegaran Abdi Sedulur CU Kridha Rahardja di Oemah Petruk Kaliurang Memperkuat Semangat, Solidaritas, dan Komitmen Pelayanan

Abdi Sedulur Credit Union (CU) Kridha Rahardja mengikuti kegiatan Penyegaran Abdi Sedulur di Oemah Petruk Kaliurang pada tanggal 12 September 2026,  sebagai bagian dari upaya memperkuat semangat pelayanan, membangun kebersamaan, serta menyegarkan kembali komitmen dalam menjalankan peran sebagai Abdi Sedulur CU baik itu Abdi Sedulur Pengurus, Pengawas, Komite, Manajemen ataupun Pemangku Teritori (Peter).

 

Kegiatan penyegaran ini menjadi momentum penting bagi para Abdi Sedulur untuk sejenak keluar dari rutinitas pelayanan dan melihat kembali makna dari peran yang dijalankan. Abdi Sedulur tidak hanya dituntut mampu melaksanakan tugas organisasi, tetapi juga perlu memiliki energi, motivasi, kepedulian, dan semangat untuk terus bertumbuh bersama anggota.

Menguatkan Kembali Makna Menjadi Abdi Sedulur

Selama kegiatan, para Abdi Sedulur diajak untuk melakukan outbond guna refleksi terhadap pengalaman selama menjalankan tugas sebagai Abdi Sedulur. Berbagai pengalaman, tantangan, keberhasilan, maupun pembelajaran menjadi bahan untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Penyegaran dalam bentuk Outbond ini menjadi ruang untuk menyadari bahwa kekuatan CU bukan hanya terletak pada sistem dan program kerja, tetapi juga pada orang-orang yang dengan sukarela dan penuh komitmen mengambil bagian dalam gerakan CU.

Menjadi Abdi Sedulur  berarti bersedia hadir, terlibat, belajar, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan anggota sesuai perannya  masing-masing serta keberlanjutan CU Kridha Rahardja.

Belajar dari Kebersamaan

Suasana Oemah Petruk Kaliurang yang sejuk memberikan ruang yang berbeda bagi Abdi Sedulur untuk membangun interaksi yang lebih cair. Kegiatan bersama berupa Outbond dan diakhiri Rekreasi Bersama di Kaliurang Park, membantu mempererat hubungan antar Abdi Sedulur.

Kebersamaan tersebut memberikan kesadaran bahwa perjalanan CU tidak dapat dilakukan secara individual. Diperlukan kerja sama, saling mendukung, komunikasi yang terbuka, dan kemauan untuk belajar dari satu sama lain.

Melalui kegiatan ini, para Abdi Sedulur juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal rekan kerja dan sesama Abdi Sedulur di Tempat Pelayanan setempat atupun di Tempat Pelayanan lainnya  secara lebih dekat. Hubungan yang semakin kuat diharapkan dapat menjadi modal sosial dalam menghadapi berbagai tantangan organisasi ke depan.

Menyegarkan Energi untuk Melayani

Salah satu pesan penting dari kegiatan penyegaran adalah bahwa Abdi Sedulur juga membutuhkan ruang untuk mengisi kembali energinya.

Rutinitas pelayanan, dinamika organisasi, dan berbagai persoalan anggota terkadang dapat menimbulkan kejenuhan. Karena itu, penyegaran bukan sekadar kegiatan rekreatif, tetapi menjadi bagian dari proses menjaga semangat dan keberlanjutan gerakan.

Dengan energi yang kembali diperbarui, Abdi Sedulur diharapkan mampu menghadirkan pelayanan yang lebih positif, ramah, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan anggota.

Membawa Pulang Semangat Baru

Kegiatan Penyegaran Abdi Sedulur di Kaliurang tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Nilai terpenting dari kegiatan ini adalah bagaimana pengalaman dan pembelajaran tersebut dibawa kembali ke lingkungan Komunitas Teritorinya dan dalam pelayanan terhadap anggota.

Para Abdi Sedulur diharapkan mampu menerjemahkan semangat kebersamaan menjadi tindakan nyata: lebih peduli terhadap anggota, lebih aktif berkontribusi, dan lebih konsisten menjaga nilai-nilai CU.

Penyegaran ini menjadi pengingat bahwa perjalanan CU merupakan perjalanan bersama dengan tidak meninggalkan yang lain. Setiap Abdi Sedulur masing-masing memiliki peran dalam menjaga api gerakan agar tetap menyala.

 

Dari Oemah Petruk Kaliurang, energi baru dibawa pulang. Dari kebersamaan, lahir kekuatan baru. Dan dari komitmen para Abdi Sedulur,  CU Kridha Rahardja terus bergerak untuk bertumbuh dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi anggota.

 

Ig Slamet Riyadi

Kepala Kantor TP Bawen Credit Union Kridha Rahardja

Punya Usaha atau Ingin Mengembangkan Usaha? Temukan Caranya dengan Metode ABCD dan AI

Punya Usaha atau Ingin Mengembangkan Usaha? Temukan Caranya dengan Metode ABCD dan AI

Memulai atau mengembangkan usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Webinar CU Kridha Rahardja ini mengajak anggota CU dan masyarakat umum untuk mengenali potensi diri serta lingkungan sekitar sebagai aset yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Dengan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang dipadukan dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), peserta akan mendapatkan wawasan dan langkah praktis untuk merancang, memulai, serta mengembangkan usaha secara lebih kreatif dan strategis.

🎤 Pembicara: Antonius Sumarwan, SJ • Nurma Lestari • Cornelius Widodo
📅 Minggu, 6 September 2026
⏰ 19.00 WIB
💻 Zoom Meeting
🎟️ GRATIS — untuk anggota CU dan umum

🔗 Daftar Sekarang

Jangan hanya punya ide usaha—kenali aset yang Anda miliki, manfaatkan AI, dan mulai kembangkan peluangnya!

Pentingnya Dana Darurat

Pentingnya Dana Darurat

Pak Hardja terpaksa menjual motornya untuk keperluan operasi anaknya. Mita terpaksa mengakses pinjaman online karena butuh uang untuk perbaikan motor satu-satunya. Bu Monika menjual perhiasannya untuk kebutuhan hidup karena suaminya kena PHK. Pak Eksan berutang kepada tetangga dan saudaranya untuk memperbaiki rumahnya yang bocor terkena badai.

Apakah cerita-cerita tersebut akrab dengan kehidupan di sekitar Anda, atau jangan-jangan Anda sendiri yang mengalaminya? Dalam hidup ini ada peribahasa “sedia payung sebelum hujan”, begitu juga dalam hal keuangan. Kita dihadapkan pada keadaan yang tidak terduga. Maka, Anda memerlukan yang namanya dana darurat. Apa itu dana darurat?

Dana darurat adalah sejumlah dana yang kita sisihkan untuk mendanai pengeluaran tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan mendadak, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan mendesak lainnya. Dana ini berbeda dengan tabungan biasa karena tujuannya bukan untuk membeli barang, berlibur, atau berinvestasi, melainkan sebagai jaring pengaman ketika terjadi krisis finansial yang tidak direncanakan.

Sebagian orang menganggap dana darurat tidak penting dan mencampurkannya dengan rekening harian. Padahal, dengan memiliki dana darurat, Anda akan merasa aman secara psikologis. Anda tidak perlu cemas bila terjadi sesuatu dalam hidup Anda. Selain itu, Anda juga terhindar dari jebakan pinjaman online/rentenir yang malah membuat hidup Anda semakin sengsara.

Mengutip pakar keuangan Lidwina Hananto dalam buku Untuk Indonesia yang Kuat, terdapat empat kriteria dalam membangun dana darurat:

  1. Belum menikah: Idealnya memiliki dana darurat setara 3 kali pengeluaran bulanan. Mengapa lebih kecil? Karena mereka umumnya memiliki tanggungan yang lebih sedikit dan biaya hidup yang lebih fleksibel. Jika kehilangan pekerjaan, mereka bisa lebih mudah berhemat atau bahkan pindah ke tempat tinggal yang lebih terjangkau.
  2. Keluarga muda (belum ada anak): Standarnya adalah 6 kali pengeluaran bulanan. Ini karena tanggung jawab finansialnya lebih besar. Ada kebutuhan untuk pasangan, dan mungkin cicilan rumah atau kendaraan. Jika pencari nafkah utama kehilangan pendapatan, keluarga harus tetap bisa berjalan.
  3. Keluarga dengan satu anak: Dana yang diperlukan adalah 9 kali pengeluaran bulanan. Tanggung jawab finansialnya semakin besar dengan adanya anak.
  4. Keluarga dengan dua anak atau lebih, pekerja lepas (freelance), atau pekerja dengan pendapatan tidak tetap: Kelompok ini disarankan memiliki dana darurat 12 kali pengeluaran bulanan. Pendapatan yang tidak tetap dan tanggung jawab yang semakin besar sangat berisiko dalam perencanaan keuangan.

Misalnya, Dea tinggal di Kota Salatiga dan belum menikah dengan pengeluaran per bulan Rp1.000.000, maka dana darurat yang perlu disiapkan adalah Rp3.000.000.

Pak Dodo, seorang pengemudi ojek daring dengan satu anak, memiliki pengeluaran per bulan Rp3.000.000. Maka, Pak Dodo wajib mempunyai dana darurat Rp36.000.000 karena Pak Dodo termasuk pekerja dengan pendapatan tidak tetap.

Sedangkan Andi, yang juga pengemudi ojek daring dengan pengeluaran per bulan Rp1.500.000 tetapi belum menikah, dana darurat yang dibutuhkan adalah Rp4.500.000. Mengapa perhitungannya berbeda dengan Pak Dodo yang sama-sama pekerja dengan pendapatan tidak tetap? Jawabannya karena Andi belum menikah dan tidak punya tanggungan, sedangkan Pak Dodo sudah menikah dan punya satu anak.

Membentuk dana darurat sebesar itu memang memerlukan waktu dan SADIS (Sabar dan Disiplin). Langkah berikut bisa Anda ikuti dalam membentuk dana darurat:

  1. Putuskan seberapa besar dana darurat yang akan Anda bentuk. Anda tidak harus langsung membentuk 9 kali atau 12 kali pengeluaran. Mulailah dari yang realistis, misalnya membentuk dahulu dana setara 3 bulan pengeluaran.
  2. Buat anggaran belanja bulanan dan tentukan nominal yang akan disetor tiap bulan untuk membentuk dana darurat.
  3. Buatlah rekening dana darurat yang terpisah dari rekening utama Anda. Pastikan rekening ini bersifat likuid, artinya Anda dapat dengan mudah mengaksesnya sewaktu-waktu, misalnya dalam bentuk deposito.

Cara terbaik untuk membangun dana darurat adalah dengan membuka simpanan Jagan di Credit Union Kridha Rahardja. Anda bisa mulai menabung tiap bulan, misalnya Rp20.000. Setelah berjalannya waktu, tingkatkan menjadi Rp30.000, begitu seterusnya, sehingga Anda terbiasa dan tidak merasakannya. Atau, Anda dapat mengakses pinjaman Cagaran, lalu memasukkannya ke Simpanan Jagan dan mengangsurnya rutin tiap bulan. Anggaplah itu cicilan untuk pembelian motor, karena sebagian dari kita pasti mampu mengangsur Rp500.000–Rp800.000 tiap bulan untuk cicilan motor, namun tidak untuk menabung.

Perlu diingat, setelah Anda menggunakan dana darurat, Anda wajib mengembalikannya karena dana itu suatu saat akan digunakan lagi. Penting juga untuk tidak menggunakan dana darurat untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, seperti membeli TV, iPhone, dan lain-lain. Jangan mengakses pinjaman online/rentenir guna membayar pengeluaran darurat karena bisa dipastikan Anda akan semakin sengsara. Begitu juga, Credit Union perlu menghindari pemberian pinjaman untuk kebutuhan darurat karena potensi risiko gagal bayar yang besar.

Membangun dana darurat memang membutuhkan waktu dan konsistensi, namun bukan sesuatu yang mustahil dilakukan asalkan memiliki strategi yang tepat, sabar, dan disiplin (SADIS). Maka, mulailah sekarang juga dengan nilai yang kecil — tidak ada kata terlambat untuk memulai.

 

Yohanes Rudi Pramono

Aktivis Credit Union Kridha Rahardja

PENDIDIKAN DI CREDIT UNION BUKAN SOAL CERAMAH

PENDIDIKAN DI CREDIT UNION BUKAN SOAL CERAMAH

Dalam suatu pertemuan Credit Union di Korea Selatan, Suster Mary Gabriela, tokoh yang merintis Credit Union di Korea Selatan sekaligus pendiri NACUFOK (National Credit Union Federation of Korea),  ditanya tentang faktor utama yang menentukan sukses tidaknya sebuah Credit Union . Jawaban beliau tidak menyebut soal modal, tidak soal gedung megah tidak juga soal kecanggihan teknologi atau besaran suku bunga. Hanya satu kata yang beliau tekankan berulang-ulang: pendidikan, pendidikan, pendidikan.

Sejatinya yang diurus Credit Union bukan uang tapi manusia. Dan manusia hanya dapat berkembang lewat proses belajar. Banyak yang keliru mengira aset paling berharga sebuah CU adalah kantor yang mewah, simpanan anggota bernilai triliunan. Padahal semua itu hanyalah hasil sampingan, bukan inti dari Credit Union.

Aset paling berharga sesungguhnya adalah anggota yang terdidik. Anggota yang pola pikirnya telah berubah lewat pendidikan, akan lebih mengutamakan mengisi pikirannya dengan wawasan. Sementara anggota yang belum tersentuh pendidikan cenderung sibuk memikirkan kebutuhan dasar semata (urusan makan).

Bayangkan anggota yang terdidik ibarat akar pohon yang tertanam kuat jauh ke dalam bumi. Wujud pohonnya boleh jadi tidak menjulang tinggi, tetapi selama akarnya kokoh, terpaan badai sekencang apa pun akan sulit merobohkannya. Sebaliknya, CU dengan anggota yang minim pemahaman ibarat pohon berdaun lebat namun berakar dangkal tampak megah dari kejauhan, tapi begitu diterpa angin kencang, langsung tumbang.

Pendidikan bagi anggota (termasuk juga pendidikan bagi aktivis) sejatinya bukanlah pengeluaran yang sia sia atau pemborosan, melainkan investasi jangka panjang dengan hasil paling menguntungkan. Ketika seorang anggota mengerti pentingnya menabung sebelum mengajukan pinjaman, di situlah CU sedang menekan risiko kredit lalai. Ketika anggota paham akan hak serta kewajibannya, di situlah tata kelola organisasi diperkuat. Dan ketika anggota menyadari statusnya sebagai pemilik Credit Union, di situlah rasa kesetiaan terhadap lembaga tumbuh. Tidak ada sistem secanggih apa pun yang sanggup menggantikan peran pendidikan dalam hal ini.

Namun ketika pendidikan diabaikan, persoalan demi persoalan akan bermunculan. Anggota hanya akan datang saat butuh pinjaman, lalu menghilang begitu dana cair. Mereka tidak hadir dalam rapat anggota, tidak pernah ikut kegiatan pendidikan, tidak tahu ke mana arah lembaga, dan tidak mengerti pentingnya menabung secara konsisten. Bagi mereka, Credit Union hanya dikenal lewat sebagai lembaga pencairan pinjaman yang lebih murah.

Konsekuensinya, mereka meminjam tanpa memperhitungkan kesanggupan membayar kembali. Keputusan finansial diambil berdasarkan perkiraan dan modal nekat, bukan  perhitungan matang. Usaha belum berjalan jelas, tapi pengajuan kredit sudah lebih dulu diproses. Penghasilan pun belum pasti, namun angsuran dipikir belakangan. Spekulasi menggantikan posisi perencanaan yang seharusnya matang.

Begitu usaha yang dijalankan gagal, cicilan pun ikut macet. Dan ketika pengajuan pinjaman ditolak karena alasan kehati-hatian atas kondisi keuangan, mereka justru merasa kecewa dan memilih keluar dari anggota. Padahal yang menjadi dasar keputusan kredit  adalah prinsip kehati-hatian yang memang harus dijaga.

Anggota yang minim pemahaman tentang Credit Union  juga jauh lebih rentan berubah menjadi anggota yang tidak aktif alias “tidur”. Nama mereka memang masih tercatat dalam sistem, tapi Ia tidak merasa memiliki, tidak ikut menjaga, apalagi peduli dengan keberlangsungan lembaga. Relasinya dengan CU sebatas pemberi pinjaman semata. Pinjam selagi butuh ketika pinjaman sudah lunas, maka ia kembali “tidur.”

Padahal, Credit Union  bukanlah sekadar  simpan – pinjam. Ia adalah rumah bersama. Sebuah rumah akan tetap kokoh berdiri bila setiap penghuninya turut serta menyapu lantai, membersihkan ruangan, dan memperbaiki atap yang bocor. Namun jika semua orang hanya datang untuk berteduh tanpa pernah ikut merawatnya, lambat laun rumah tersebut akan lapuk dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, pendidikan bagi anggota Credit Union bukan sekadar mengajarkan tata cara mengisi formulir pinjaman. Bukan pula rangkaian ceramah semata. Fungsi pendidikan yang sesungguhnya adalah membentuk pola pikir ,mengubah cara pandang dari “apa yang bisa saya peroleh dari CU” menjadi “apa yang bisa saya kembangkan bersama CU”. Pergeseran cara berpikir semacam inilah yang sesungguhnya paling bernilai, dan paling menentukan kelangsungan Credit Union.

Modal lembaga,likuditas bisa dicari dari berbagai sumber. Teknologi bisa dibeli dengan uang. Gedung bisa dibangun kapan saja. Namun anggota yang memiliki kesadaran, kesetiaan, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab tidak bisa didapat dengan cara membeli. Karakter semacam itu hanya bisa ditumbuhkan lewat proses pendidikan yang dijalankan secara berkesinambungan dan terus menerus. Hanya  pendidikan yang mampu mengikis kebiasaan buruk, hanya pendidikan yang membebaskan dari pola pikir lama, serta hanya pendidikan yang sanggup mengubah posisi anggota dari sekadar objek menjadi subjek yang aktif.

Semakin banyak anggota yang terdidik dan pola pikirnya berubah, semakin sedikit  resiko kredit lalai, dan semakin sedikit juga energi dan sumber daya  untuk membangunkan anggota yang tidak aktif, atau menyelesaikan berbagai konflik yang sebenarnya berakar dari minimnya pemahaman tentang Credit Union. Maka sekali lagi pendidikan bukanlah beban biaya tapi investasi bagi Credit Union itu sendiri.

Credit Union yang unggul bukanlah Credit Union yang asetnya besar, anggotanya banyak ,pinjaman beredarnya besar atau SHU nya besar. Credit Union yang unggul adalah Credit Union  yang paling berhasil mendidik anggotanya dengan pola pikir baru dan mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan finansial secara bijak dan penuh pertimbangan. Dengan begitu dapat dipastikan aset akan bertambah, begitu juga dengan jumlah anggota, pinjaman beredar atau pun SHU akan naik dengan sendirinya.

Karena itu, jawaban Suster Mary Gabriela wajib menjadi pegangan Credit Union, digaungkan terus menerus dalam setiap kegiatan pendidikan anggota, dan ditanamkan kuat-kuat dalam pikiran dan hati setiap pengurus, pengawas, manajemen dan juga aktivis Credit Union. Sebab kekayaan terbesar sebuah Credit Union bukanlah aset yang besar, melainkan manusia-manusia yang telah tercerahkan lewat pendidikan. Itulah pondasi sejati yang membuat Credit Union tetap tegak berdiri, sekuat apa pun badai yang menerpanya.

 

Yohanes Rudi Pramono

Aktivis Credit Union

Peduli Kepada Anggota, CU Kridha Rahardja Salurkan Bantuan Pendidikan Untuk 18 Siswa

Peduli Kepada Anggota, CU Kridha Rahardja Salurkan Bantuan Pendidikan Untuk 18 Siswa

Warta Kita.org – Credit Union Kridha Rahardja (CUKR) menyalurkan bantuan pendidikan kepada 18 siswa dari keluarga anggota yang berada di tiga Tempat Pelayanan (TP), yaitu TP Bawen, Yogyakarta, dan Wedi.

Kali ini, setiap TP masing-masing mendapat alokasi bantuan pendidikan untuk enam siswa.

Pada tahun 2026 ini, ada sebanyak 82 anggota yang mengajukan bantuan pendidikan, yakni TP Bawen 26 anggota, TP Yogyakarta 30 anggota, dan TP Wedi 26 anggota.

Ketua Pengurus CU Kridha Rahardja Rama Antonius Sumarwan, SJ dalam surat pemberitahuan tertanggal 15 Juli 2026 menyampaikan, program bantuan pendidikan ini dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pendidikan serta sebagai bentuk kepedulian CU KR terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Proses seleksi bantuan pendidikan tahun 2026 telah selesai dilaksanakan. Seleksi yang dilakukan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan oleh CU KR. Karena itu, pengurus mengucapkan selamat kepada penerima bantuan dana pendidikan. Dan bagi (anggota) yang belum memperoleh kesempatan pada tahun ini, kami mengapresiasi partisipasinya, dan berharap tetap semangat untuk terus berprestasi,” tulis rama.

Penyaluran bantuan pendidikan di TP Wedi dilakukan di kantor setempat pada Kamis (16/7/2026) pagi.

Bantuan pendidikan secara simbolis diserahkan oleh Sekretaris Pengawas CU KR L Sukamta, dan Kepala Kantor TP Wedi Sarwanto, serta Komite TP Wedi yaitu Sri Muryadi dan Puji Lestari.

 

<<Selengkapnya>>

Belajar Mengelola Keuangan, CU Kridha Rahardja Adakan Financial Literacy, Anggota Diajak Tekun Menabung

Belajar Mengelola Keuangan, CU Kridha Rahardja Adakan Financial Literacy, Anggota Diajak Tekun Menabung

Warta Kita.org – Credit Union Kridha Rahardja (CUKR) mengadakan kegiatan Financial Literacy (FL) atau literasi keuangan untuk anggota Tempat Pelayanan (TP) Wedi yang diadakan di Kedai Nggirli Desa Karanglo, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten pada Minggu (28/6/2026).

Pendidikan literasi keuangan ini menghadirkan dua narasumber yaitu Staf Pemberdayaan TP Wedi Dewi Musfiroh dan Pemangku Teritori (Peter) Maju Mapan Sejahtera Wedi Barat, T Tri Setyono.

Ada delapan materi yang disampaikan pada FL ini, yakni Misi Credit Union, Produk dan Pelayanan CUKR, Menghitung Kekayaan, Kaidah Manajemen Keuangan, Cara Menabung, Dana Darurat, Perencanaan Keuangan Keluarga, dan Anggaran Belanja Keluarga.

Staf Pemberdayaan TP Wedi Dewi Musfiroh menyampaikan, setiap anggota CUKR wajib mengikuti dua pendidikan latihan (Diklat), yaitu Pendidikan Dasar (Diksar) dan Financial Literacy (FL). Pendidikan Dasar ini untuk memperoleh ilmu merubah nasib dan pentingnya hidup berkomunitas. Sedang Financial Literacy ini untuk memperoleh ilmu cara mendatangkan, mengelola, dan meningkatkan jumlah uang yang disimpan di CUKR.

 

<<Selengkapnya>>

Copyright © 2026 cukridharahardja.org