Pentingnya Dana Darurat

Pentingnya Dana Darurat

Pak Hardja terpaksa menjual motornya untuk keperluan operasi anaknya. Mita terpaksa mengakses pinjaman online karena butuh uang untuk perbaikan motor satu-satunya. Bu Monika menjual perhiasannya untuk kebutuhan hidup karena suaminya kena PHK. Pak Eksan berutang kepada tetangga dan saudaranya untuk memperbaiki rumahnya yang bocor terkena badai.

Apakah cerita-cerita tersebut akrab dengan kehidupan di sekitar Anda, atau jangan-jangan Anda sendiri yang mengalaminya? Dalam hidup ini ada peribahasa “sedia payung sebelum hujan”, begitu juga dalam hal keuangan. Kita dihadapkan pada keadaan yang tidak terduga. Maka, Anda memerlukan yang namanya dana darurat. Apa itu dana darurat?

Dana darurat adalah sejumlah dana yang kita sisihkan untuk mendanai pengeluaran tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya pengobatan mendadak, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan mendesak lainnya. Dana ini berbeda dengan tabungan biasa karena tujuannya bukan untuk membeli barang, berlibur, atau berinvestasi, melainkan sebagai jaring pengaman ketika terjadi krisis finansial yang tidak direncanakan.

Sebagian orang menganggap dana darurat tidak penting dan mencampurkannya dengan rekening harian. Padahal, dengan memiliki dana darurat, Anda akan merasa aman secara psikologis. Anda tidak perlu cemas bila terjadi sesuatu dalam hidup Anda. Selain itu, Anda juga terhindar dari jebakan pinjaman online/rentenir yang malah membuat hidup Anda semakin sengsara.

Mengutip pakar keuangan Lidwina Hananto dalam buku Untuk Indonesia yang Kuat, terdapat empat kriteria dalam membangun dana darurat:

  1. Belum menikah: Idealnya memiliki dana darurat setara 3 kali pengeluaran bulanan. Mengapa lebih kecil? Karena mereka umumnya memiliki tanggungan yang lebih sedikit dan biaya hidup yang lebih fleksibel. Jika kehilangan pekerjaan, mereka bisa lebih mudah berhemat atau bahkan pindah ke tempat tinggal yang lebih terjangkau.
  2. Keluarga muda (belum ada anak): Standarnya adalah 6 kali pengeluaran bulanan. Ini karena tanggung jawab finansialnya lebih besar. Ada kebutuhan untuk pasangan, dan mungkin cicilan rumah atau kendaraan. Jika pencari nafkah utama kehilangan pendapatan, keluarga harus tetap bisa berjalan.
  3. Keluarga dengan satu anak: Dana yang diperlukan adalah 9 kali pengeluaran bulanan. Tanggung jawab finansialnya semakin besar dengan adanya anak.
  4. Keluarga dengan dua anak atau lebih, pekerja lepas (freelance), atau pekerja dengan pendapatan tidak tetap: Kelompok ini disarankan memiliki dana darurat 12 kali pengeluaran bulanan. Pendapatan yang tidak tetap dan tanggung jawab yang semakin besar sangat berisiko dalam perencanaan keuangan.

Misalnya, Dea tinggal di Kota Salatiga dan belum menikah dengan pengeluaran per bulan Rp1.000.000, maka dana darurat yang perlu disiapkan adalah Rp3.000.000.

Pak Dodo, seorang pengemudi ojek daring dengan satu anak, memiliki pengeluaran per bulan Rp3.000.000. Maka, Pak Dodo wajib mempunyai dana darurat Rp36.000.000 karena Pak Dodo termasuk pekerja dengan pendapatan tidak tetap.

Sedangkan Andi, yang juga pengemudi ojek daring dengan pengeluaran per bulan Rp1.500.000 tetapi belum menikah, dana darurat yang dibutuhkan adalah Rp4.500.000. Mengapa perhitungannya berbeda dengan Pak Dodo yang sama-sama pekerja dengan pendapatan tidak tetap? Jawabannya karena Andi belum menikah dan tidak punya tanggungan, sedangkan Pak Dodo sudah menikah dan punya satu anak.

Membentuk dana darurat sebesar itu memang memerlukan waktu dan SADIS (Sabar dan Disiplin). Langkah berikut bisa Anda ikuti dalam membentuk dana darurat:

  1. Putuskan seberapa besar dana darurat yang akan Anda bentuk. Anda tidak harus langsung membentuk 9 kali atau 12 kali pengeluaran. Mulailah dari yang realistis, misalnya membentuk dahulu dana setara 3 bulan pengeluaran.
  2. Buat anggaran belanja bulanan dan tentukan nominal yang akan disetor tiap bulan untuk membentuk dana darurat.
  3. Buatlah rekening dana darurat yang terpisah dari rekening utama Anda. Pastikan rekening ini bersifat likuid, artinya Anda dapat dengan mudah mengaksesnya sewaktu-waktu, misalnya dalam bentuk deposito.

Cara terbaik untuk membangun dana darurat adalah dengan membuka simpanan Jagan di Credit Union Kridha Rahardja. Anda bisa mulai menabung tiap bulan, misalnya Rp20.000. Setelah berjalannya waktu, tingkatkan menjadi Rp30.000, begitu seterusnya, sehingga Anda terbiasa dan tidak merasakannya. Atau, Anda dapat mengakses pinjaman Cagaran, lalu memasukkannya ke Simpanan Jagan dan mengangsurnya rutin tiap bulan. Anggaplah itu cicilan untuk pembelian motor, karena sebagian dari kita pasti mampu mengangsur Rp500.000–Rp800.000 tiap bulan untuk cicilan motor, namun tidak untuk menabung.

Perlu diingat, setelah Anda menggunakan dana darurat, Anda wajib mengembalikannya karena dana itu suatu saat akan digunakan lagi. Penting juga untuk tidak menggunakan dana darurat untuk hal-hal yang bersifat konsumtif, seperti membeli TV, iPhone, dan lain-lain. Jangan mengakses pinjaman online/rentenir guna membayar pengeluaran darurat karena bisa dipastikan Anda akan semakin sengsara. Begitu juga, Credit Union perlu menghindari pemberian pinjaman untuk kebutuhan darurat karena potensi risiko gagal bayar yang besar.

Membangun dana darurat memang membutuhkan waktu dan konsistensi, namun bukan sesuatu yang mustahil dilakukan asalkan memiliki strategi yang tepat, sabar, dan disiplin (SADIS). Maka, mulailah sekarang juga dengan nilai yang kecil — tidak ada kata terlambat untuk memulai.

 

Yohanes Rudi Pramono

Aktivis Credit Union Kridha Rahardja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 cukridharahardja.org