Deru motor terdengar dari kejauhan. Kendaraan tersebut memasuki halaman Omah Sedulur Credit Union Kridha Rahardja TP Wedi. Seorang pria paruh baya memarkirkan kendaraan dan membetulkan posisi rombong yang terbuat dari bambu. Ia mendekat menuju bangunan Omah Sedulur. Rupanya Sri Muryadi yang datang. Ia cukup sering datang ke Omah Sedulur selepas menjual ayam di pasar Wedi. Sesuai namanya, Omah Sedulur sudah seperti rumah sendiri bagi pria asal Serut, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul ini.

Pria berusia 54 tahun ini mengenal Credit Union semenjak dirinya bergabung menjadi relawan Karina KAS pasca gempa Bantul tahun 2006. Ia bertugas menjadi mandor bantuan pembangunan tempat tinggal sesuai dengan pekerjaannya kala itu. Romo Sumantoro yang waktu itu juga menjadi penggerak Karina KAS di Paroki Wedi membujuknya untuk bergabung menjadi anggota CU–saat itu masih bergabung dengan Credit Union Bererod Gratia yang berkantor pusat di Jakarta Timur. Syarat dana yang dibutuhkan untuk masuk menjadi anggota dirasa berat olehnya waktu itu.
Berkat kekukuhan Romo Sumantoro agar semakin banyak umat yang bergabung menjadi anggota CU, Sri Muryadi bersama empat orang lainnya yang berasal dari daerah yang sama mendapatkan pinjaman untuk modal ternak sapi dan pendaftaraan anggota yang bisa dicicil. Seiring berjalannya waktu, cicilan untuk masuk anggota sudah lunas, ia mengakses pinjaman di CU untuk mengembalikan pinjaman modal dari Romo Sumantoro.
Dari penuturan Muryadi, diketahui bahwa ketika ia bergabung, belum ada sepuluh orang yang berasal dari daerahnya. Bekerja sama dengan para aktivis lain, komunitas teritori Gedangsari sendiri mempunyai 103 anggota. Di balik kesuksesannya men-CU-kan para warga di sekitarnya, ia pernah mengalami masa-masa kritis disaat beredar isu bahwa CUBG TP Wedi akan tutup. Berkat kegigihannya meyakinkan warga Gedangsari, anggota yang awalnya ingin mengundurkan diri dari anggota CUBG mengurungkan niatnya dan tetap bergabung hingga sekarang.
Dari pengalaman dan perjalanan panjangnya bersama CU ia dipercaya menjadi komite kredit di CUKR TP Wedi. Dari pinjaman yang didapat ia berhasil menjalankan usaha sapi yang mampu membiayai pendidikan anak semata wayangnya hingga lulus sarjana. Sri Muryadi mengaku, dua hal ini, membawanya kepada perubahan pola pikir tentang penghasilan. Ketika ia menjadi peternak dan pedagang ia mempunyai lebih banyak waktu untuk melayani sesama baik di lingkungan, gereja bahkan di CU.


Selain itu ia berharap para orang muda yang ingin memulai usaha tidak ragu dan fokus dengan usaha serta tujuannya. Saat usaha tengah berjalan pasti akan muncul pemikiran-pemikiran baru yang dapat menyelesaikan masalah. Sama seperti dirinya ketika mengawali profesi sebagai peternak sapi. Pengetahuannya mengenai ternak terutama sapi didapatkan secara otodidak. Meskipun ayahnya mempunyai ternak sapi sebelumnya, ilmu itu masih belum cukup baginya. Ia harus mempunyai pengalaman terlebih dahulu, barulah pengalaman tersebut dijadikan pelajaran untuknya.
Seiring dengan tujuan CUKR di bidang pemberdayaan, ia berharap agar usaha para anggota bisa maju dan berkembang. Hal ini bertujuan agar keuangan anggota lebih teratur sehingga bisa membagi pemasukan dan pengeluaran dengan baik. Misalnya, jika modal didapatkan dari meminjam modal di CU, diharapkan dapat memetakan biaya-biaya dengan baik termasuk untuk cicilan.
Sebagai anggota, tak hanya memanfaatkan simpanan dan pinjaman, pemberdayaan berbasis komunitas manfaatkan secara maksimal oleh Sri Muryadi. Sebagai contoh, keran pemasukannya kini merambah ke usaha jual beli ayam kampung. Pria yang yang akrab disapa Pak Mur ini, membeli ayam milik sesama anggota CUKR kemudian ia jual ke pasar atau mengirimkan pesanan ayam ke sesama anggota CUKR. Di sinilah ia mempunyai peran untuk saling melengkapi kebutuhan sesama anggota CUKR.


Sebagai bagian dari CU, dan CU adalah sebagian dari dirinya, Pak Mur berharap agar lembaga ini tetap eksis, bertumbuh dan melayani sedulur. Dengan berbagai macam latar belakang dari anggota, ia berharap hal ini menjadi kekuatan sehingga dapat memenuhi kebutuhan anggota.
Setelah melepas lelah dan menyetujui pengajuan kredit di Omah Sedulur, Sri Muryadi beranjak dari tempat duduknya. Ia harus melakukan agenda berikutnya dan berpamitan hendak mencari rumput untuk ternak sapinya. Ia juga berpesan kepada orang-orang belum menjadi anggota CUKR agar bergabung menjadi sedulur CUKR dan menikmati manfaatnya seperti yang sudah ia nikmati hasilnya saat ini. Tidak hanya produk simpanan, pinjaman dan pemberdayaan tapi juga perubahan pola pikir yang semakin baik, relasi dan kerja sama dengan sesama anggota atau sedulur CUKR.