Pelajar SMK Negeri 1 Jogonalan Belajar Koperasi dan Pemberdayaan di CU Kridha Rahardja TP Wedi

Pelajar SMK Negeri 1 Jogonalan Belajar Koperasi dan Pemberdayaan di CU Kridha Rahardja TP Wedi

Wedi, Klaten — Omah Sedulur CU Kridha Rahardja (CUKR) TP Wedi kembali menjadi ruang belajar bagi generasi muda. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, tempat tersebut kedatangan tujuh siswa kelas XI Jurusan Akuntansi dari SMK Negeri 1 Jogonalan.

Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi bagian dari tugas mata pelajaran koperasi. Para siswa melakukan wawancara dengan Kepala Kantor CU Kridha Rahardja TP Wedi, Sarwanto, untuk mengenal lebih dekat dunia koperasi sekaligus memahami bagaimana koperasi hadir dan memberikan manfaat bagi anggotanya.

Menariknya, pilihan CUKR sebagai tempat belajar berawal dari salah satu siswa, Abeta, yang merupakan anak dari anggota CU Kridha Rahardja dari Teritori Gedangsari, Lestariningsih. Dari hubungan tersebut, para siswa kemudian memilih CUKR sebagai narasumber untuk menggali lebih banyak pengetahuan mengenai koperasi dan CU.

Mengenal CU dari Sejarah hingga SHU

Dalam sesi wawancara, ketujuh siswa dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan kepada Sarwanto. Mereka tidak hanya bertanya mengenai hal-hal mendasar tentang koperasi, tetapi juga ingin mengetahui perjalanan CU Kridha Rahardja sejak awal berdiri hingga berkembang seperti sekarang.

Beberapa hal yang mereka gali antara lain sejarah berdirinya CU Kridha Rahardja, jumlah anggota, pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU), visi dan misi, hingga struktur organisasi.

Sarwanto menjelaskan setiap pertanyaan dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia juga mengajak para siswa melihat koperasi dan credit union bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai wadah yang dibangun dari, oleh, dan untuk anggota.

Bagi para siswa, sesi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana teori yang mereka pelajari di kelas diterapkan dalam kehidupan nyata.

Dari Koperasi, Berlanjut Belajar Pemberdayaan

Setelah sesi wawancara selesai, kegiatan tidak berhenti di ruang diskusi. Sarwanto kemudian mengajak para siswa melihat lebih dekat salah satu kegiatan pemberdayaan yang sedang dikembangkan di CU Kridha Rahardja TP Wedi, yaitu pertanian terpadu.

Para siswa didampingi oleh Lukas Awi dan Tri Setyono, aktivis CU Kridha Rahardja, serta Dewi Musfiroh, staf pemberdayaan CU Kridha Rahardja TP Wedi.

Di demplot pertanian terpadu, para siswa diperkenalkan pada konsep sederhana namun menarik: bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap limbah dapat kembali dimanfaatkan dan menjadi bagian dari sebuah siklus yang saling mendukung.

Salah satunya adalah pemanfaatan sampah organik rumah tangga melalui galon tumpuk untuk menghasilkan pupuk dan maggot. Pupuk yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan berbagai tanaman sayuran yang ditanam menggunakan galon bekas dan gelas minuman bekas.

Pemanfaatan wadah bekas ini bukan sekadar untuk mengurangi limbah. Konsep tersebut juga menunjukkan bahwa kegiatan bercocok tanam tetap dapat dilakukan oleh masyarakat yang memiliki lahan terbatas, dengan memanfaatkan barang-barang yang tersedia di sekitar.

Maggot, Ayam, Lele hingga Kebun Anggur

Pertanian terpadu di TP Wedi juga tidak berhenti pada tanaman. Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai sumber protein untuk ayam petelur dan ikan lele.

Dengan demikian, satu bagian dari sistem dapat mendukung bagian lainnya. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, maggot dimanfaatkan sebagai pakan, sementara hasil pengolahan organik dapat mendukung kebutuhan tanaman.

Di sisi lain, para siswa juga melihat percobaan kebun anggur yang saat ini telah memiliki tiga pohon.

Konsep yang dikembangkan sederhana, tetapi memiliki pesan penting: sebisa mungkin tidak ada bahan yang terbuang begitu saja. Apa yang menjadi sisa dari satu proses dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses lainnya.

Memanfaatkan Bonggol Jagung Menjadi Media Budidaya Jamur

Hal menarik lainnya adalah pengembangan terbaru di demplot pertanian terpadu TP Wedi, yaitu percobaan budidaya jamur dengan memanfaatkan bonggol jagung.

Selama ini, jagung yang digunakan sebagai pakan umumnya dimanfaatkan bagian bijinya, sementara bonggolnya sering kali hanya menjadi limbah atau memiliki nilai jual yang rendah.

Melalui percobaan ini, CU Kridha Rahardja TP Wedi mencoba melihat kemungkinan lain: bagaimana bonggol jagung dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bernilai.

Pengembangan ini menjadi bagian dari semangat pemberdayaan CUKR untuk terus mencari potensi yang ada di sekitar dan mengolahnya menjadi sesuatu yang memberikan manfaat.

Menjadikan CUKR sebagai Ruang Belajar

Setelah berkeliling dan melihat langsung demplot pertanian terpadu, ketujuh siswa tersebut mengakhiri kunjungannya di Omah Sedulur CUKR TP Wedi.

Mereka mengaku senang mendapatkan pengalaman belajar secara langsung. Tidak hanya memperoleh wawasan mengenai koperasi dan CU, mereka juga mendapatkan gambaran bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di lingkungan sekitar.

Para siswa bahkan berharap CU Kridha Rahardja dapat kembali menjadi tempat belajar apabila di kemudian hari mereka mendapatkan tugas atau kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan koperasi maupun pemberdayaan.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa ruang belajar tidak selalu berada di dalam kelas. Omah Sedulur CU Kridha Rahardja pun dapat menjadi ruang bertemunya pengetahuan, pengalaman, dan praktik nyata—tempat generasi muda belajar bahwa koperasi bukan hanya tentang simpan pinjam, tetapi juga tentang kebersamaan, pemberdayaan, pemanfaatan potensi, dan menciptakan manfaat bagi lingkungan.

 

F Desti Riasita

Staf Kasir TP Wedi Credit Union Kridha Rahardja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 cukridharahardja.org